teori belajar

Teori Belajar Pavlov

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menerapkan teori belajar menurut Pavlov adalah ciri-ciri kuat yang mendasarinya yaitu:

ü  Mementingkan pengaruh lingkungan

ü  Mementingkan bagian-bagian

ü  Mementingkan peranan reaksi

ü  Mengutamakan mekanisme terbentuknya hasil belajar melalui prosedur stimulus respon

ü  Mementingkan peranan kemampuan yang sudah terbentuk sebelumnya

ü  Mementingkan pembentukan kebiasaan melalui latihan dan pengulangan

ü  Hasil belajar yang dicapai adalah munculnya perilaku yang diinginkan.

Aplikasi dalam pembelajaran :

Ketika guru memberikan pertanyaan lisan kepada siswa, maka siswa diminta menjawab dengan tertib (mengcungkan tangan baru menjawab). Jika siswa menjawab tanpa mengacungkan tangan maka guru tidak akan memberikan respon kepada jawabn siswa sekalipun jawaban sudah tepat. Tapi jika siswa menjawab dengan mengacungkan tangan maka guru akan memberikan respon baik pada jawaban siswa sekalipun jawaban kurang tepat. Dengan demikian siswa akan terbiasa utnutk tertib dalam menjawab pertanyaan guru.

Teori Behaviorisme

Behaviorisme merupakan salah satu pendekatan untuk memahami perilaku individu. Behaviorisme memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek – aspek mental. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu. Teori kaum behavoris lebih dikenal dengan nama teori belajar, karena seluruh perilaku manusia adalah hasil belajar. Belajar artinya perbahan perilaku organise sebagai pengaruh lingkungan.

Ciri dari teori ini adalah

ü  mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil,

ü  bersifat mekanistis, menekankan peranan lingkungan,

ü  mementingkan pembentukan reaksi atau respon,

ü  menekankan pentingnya latihan,

ü  mementingkan mekanisme hasil belajar,

ü  mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku yang diinginkan.

Aplikasi dalam pembelajaran:

pada awal tatap muka antara guru dan murid dalam kegiatan belajar mengajar, seorang guru menunjukkan sikap yang ramah dan memberi pujian terhadap murid-muridnya, sehingga para murid merasa terkesan dengan sikap yang ditunjukkan gurunya.

Teoro Piaget

Jean Piaget dikenal dengan teori perkembangan intelektual yg menyeluruh, yg mencerminkan adanya kekuatan antara fungsi biologi & psikologis ( perkembangan jiwa).

Piaget menerangkan inteligensi itu sendiri sebagai adaptasi biologi terhadap lingkungan. Contoh : manusia tidak mempunyai mantel berbulu lembut untuk melindunginya dari dingin; manusia tidak mempunyai kecepatan untuk lari dari hewan pemangsa; manusia juga tidak mempunyai keahlian dalam memanjat pohon. Tapi manusia memiliki kepandaian untuk memproduksi pakaian & kendaraan untuk transportasi. Piaget membagi skema yang digunakan anak untuk memahami dunianya melalui empat periode utama yang berkorelasi dengan dan semakin canggih seiring pertambahan usia:

ü  Periode sensorimotor (usia 0–2 tahun)

ü  Periode praoperasional (usia 2–7 tahun)

ü  Periode operasional konkrit (usia 7–11 tahun)

ü  Periode operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa)

 

Aplikasi dalam pembelajaran

Menurut piaget siswa SD berada dalam tahap konkrit, sehingga ketika guru memberikan pendalaman materi pada siswa, guru harus memberikan contoh konkrit (berkaitan dengan pengalaman siswa yang pernah dialami) yang berkaitan dengan materi agar siswa mudah untuk memahami.

Teori Sosial Bandura

Menurut Bandura proses mengamati dan meniru perilaku dan sikap orang lain sebagai model merupakan tindakan belajar. Teori Bandura menjelaskan perilaku manusia dalam konteks interaksi timbal balik yang berkesinambungan antara kognitif, perilaku dan pengaruh lingkungan.Kondisi lingkungan sekitar individu sangat berpengaruh pada pola belajar social jenis ini.Contohnya, seseorang yang hidupnya dan dibesarkan di dalam lingkungan judi, maka dia cenderung untuk memilih bermain judi, atau sebaliknya menganggap bahwa judi itu adalah tidak baik. Eksperimen Pemodelan Bandura :

Kelompok A = Disuruh memperhatikan sekumpulan orang dewasa memukul, menumbuk, menendang, dan menjerit kearah patung besar Bobo.

Hasil = Meniru apa yang dilakukan orng dewasa malahan lebih agresif

Kelompok B = Disuruh memperhatikan sekumpulan orang dewasa bermesra dengan patung besar Bobo

Hasil = Tidak menunjukkan tingkah laku yang agresif seperti kelompok A

Rumusan :

Tingkah laku anak – anak dipelajari melalui peniruan / permodelan adalah hasil dari penguatan.

 

Aplikasi dalam pembelajaran:

Guru menunjukkan sikap yang baik di depan siswa, misal selalu disiplin ketika memulai dan mengakhiri pelajaran, selain itu guru juga harus sering mengucapkan kalimat yang baik. Dengan begitu siswa akan menirukan prilaku guru, bahkan lebih baik dari guru.

Teori Thondike

Menurut Thorndike (1911), salah seorang pendiri aliran tingkah laku, belajar adalah proses interaksi antara stimulus (yang mungkin berupa pikiran, perasaan, atau gerakan) dan respons ( yang juga bisa berupa pikiran, perasaan, atau gerakan). Jelasnya, menurut Thorndike, perubahan tingkah laku boleh berwujud sesuatu yang konkret (dapat diamati), atau yang nonkonkret (tidak bias diamati).

Menurut teori trial and error (mencoba-coba dan gagal) ini, setiap organisme jika dihadapkan dengan situasi baru akan melakukan tindakan-tindakan yang sifatnya coba-coba secara membabi buta. Jika dalam usaha mencoba itu kemudian secara kebetulan ada perbuatan yang dianggap memenuhi tuntutan situasi, maka perbuatan yang cocok itu kemudian “dipegangnya”. Karena latihan yang terus menerus maka waktu yang dipergunakan untuk melakukan perbuatan yang cocok itu makin lama makin efisien. Jadi, proses belajar menurut Thorndike melalui proses:

1). Trial and error (mencoba-coba dan mengalami kegagalan), dan

2). Law of effect, yang berarti bahwa segala tingkah laku yang berakibatkan suatu keadaan yang memuaskan (cocok dengan tuntutan situasi) akan diingat dan dipelajari dengan sebaik-baknya.

Aplikasi dalam pembelajaran:

Ketika siswa belajar menulis, guru tidak perlu menunjukkan cara memegang pensil yang benar. Jadi guru membiarkan siswanya mencari cara memegang pensil yang benar agar nyaman saat menulis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s